Selamat Datang Di MiningForce.bloggspot.co.id blog yang membahas seputar ilmu pertambangan, Tutorial dan info menarik seputar pertambangan seperti:
* Geologi adalah ilmu (sains) yang mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, dan proses pembentukanya. Orrang yang mempelajari geologi disebut geolog
* Geoteknik adalah salah satu cabang ilmu teknik sipil. Didalamnya diperdalam pembahasan mengenai permasalahan kekuatan tanah dan batuan serta hubunganya dengan kemampuan menahan beban bangunan yang berdiri diatasnya.
Juga Membahas Tutorial-tutorial seputar softwear yang dipakai di dunia pertambangan, seperti :
*Tutorial Minescape, dimana minescape adalah rangkaian solusi terintegrasi yang dirancang untuk operasi pertambangan dengan sistem open cut dan underground. Minescape menghasilkan pemodelan geologi yang luas dan memiliki fungsi desain tambang.
* Surpac Tutorial, dimana surpac adalah softwear yang sudah dikenal didunia pertambangan tidak hanya untuk engineer tapi juga dapat digunakan untuk geologi, surveying dan juga untuk IT dan finance, Data yang diberikan berupa data dalam mining dan juga eksplorasi. Surpac dapat mengolah data, membuat model cadangan dan estimasi, perhitungan volume dan sistem grade control.
Tutorial Auto Cad LD, Tutorial X-pact dll. E-book yang bisa di download secara gratis.

Semua ilmu menarik seputar pertambangan dibahas disini, semua kegiatan pertambangan Insha Allah juga akan kami bahas satu persatu secara detail.


Genesa"Keterjadian" Bahan Galian Mineral

Genesa (Keterjadian) Mineral


Artikel terkait : Proses Terbentuknya Batubara
                           Batuan-Batuan Di Bumi
                           Proses-Proses Geologi Dan Perubahan Bentang Alam




Secara umum genesa bahan galian mencakup aspek-aspek keterdapatan, proses pembentukan, komposisi, Model (bentuk, ukuran dimensi), kedudukan, dan faktor-faktor pengendali pengendapan bahan galian (geologic controls).
  Tujuan utama mempelajari genesa suatu genesa endapan bahan galian adalah sebagai pegangan dalam menemukan dan mencari endapan-endapan baru, mengungkapkan sifat-sifat fisik dan kimia endapan bahan galian, membantu dalam penentuan metoda penambangan dan pengolahan bahan galian tersebut.
Endapan-endapan mineral yang muncul sesuai dengan bentuk asalnya desebut dengan endapan primer (hipogen). jika mineral-mineral primer telah berubah melalui pelapukan atau proses-proses luar (superficial processes) disebut dengan endapan sekunder (supergen).

Proses Pembentukan Endapan Mineral Primer

 Pembentukan mineral primer secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi lima jenis endapan, yaitu :
 a. Fase Magmatik Cair
 b. Fase Pegmatitil
 c. Fase Pneumatolitik
 d. Fase Hidrothermal
 e. Fase Vulkanik

  Dari Kelima fase endapan diatas akan menghasilkan sifat-sifat endapan yang berbeda-beda, yaitu yang berhubungan dengan ;
 1. Kristalisasi Magma
 2. Jarak endapan mineral dengan asal magma
  • Intra magmatic, bila endapan terletak didalam daerah batuan beku
  • Peri magmatic, bila endapan diluar 
  • Crypto magmatic, bila hubungan antara endapan dan batuan beku tidak jelas
  • Apo Magmatic, bila letak endapan tidak terlalu jauh terpisah dari batuan beku
  • Tele magmatic, bila disekitar endapan mineral tidak terlihat (terdapat) batuan beku.
 3. Bagaimana cara pengendapan terjadi
  • Terbentuk karena kristalisasi magma atau didalam magma
  • terbentuk pada lubang-lubang yang telah ada
  • Metasomatisme (replacement) yaitu reaksi kimia antara batuan yang telah ada dengan larutan pembawa bijih.
 4. Bentuk endapan, masif, stockwork, urat, atau perlapisan.
 5. waktu terbentuknya endapan
  • Syngenetic, jika endapan terbentuk bersamaan waktunya dengan pembentukan batuan.
  • Epigenetic, jika endapan terbentuk tidak bersamaan waktunya dengan pembentukan batuan.
Genesa "Keterjadian" Bahan Galian Mineral 
A. Fase Magmatic Cair (Liquid Magmatic phase)
  Liquid magmatic phase adalah suatu fase pembentukan mineral, dimana mineral terbentuk langsung pada magma (differensiasi magma), misalnya dengan cara gravitational setting. Mineral yang banyak terbentuk dengan cara ini adalah kromit, tita magnetit, dan petlandit fase magmatik cair ini dapat dibagi atas :
1. Komponen Batuan, mineral yang terbentuk akan tersebar merata diseluruh masa batuan. contoh intan, dan platina.
2. Segresi, mineral yang terbentuk tidak tersebar merata, tetapi hanya kurang terkonsentrasi di dalam batuan.

  Injeksi Mineral yang terbentuk tidak lagi terletak di dalam magma (batuan beku), tetapi telah terdorong keluar dari magma.

B. Fase Pegmatik (Pegmatic Phase)
  Pegmatit adalah batuan beku yang terbentuk dari hasil injeksi magma. Sebagai akibat kristalisasi pada magmatik awal dan tekanan disekeliling magma, maka cairan residual yang mobile akan terinjeksi dan menerobos batuan sekelilingnya sebagai dyke, sill, dan stockwork.

Kristalisasi dari pegmatit akan berukuran besar, karena tidak adanya kontras tekanan dan temperatur antara magma dengan batuan sekelilingnya, sehingga batuan berjalan dengan lambat. Mineral-mineral pegmatit antara lain : Logam-logam ringan (Li-silikat, Be-Silikat(BeAl-Silikat), Al-rich silikat), Logam-logam berat (An, Au, W, dan Mo), Unsur-unsur jarang (Niobium, Lodium (Y), Ce, Zr, La, Tantalum, Th, u, Ti), batuan mulia (rubi, saphire, beryl, topaz, tormalin rose, rose quartz, smoki quartz, rock crystal).

C. Face Pneumatolitik (Pneumatolitic Phase)
   Pneumatolitik adalah proses reaksi kimia dari gas dan cairan dari magma dalam lingkungan yang dekat dengan magma. dari sudut geologi ini disebut kontak-metamorfisme karena adanya gejala kontak antara betuan yang lebih tua dengan magma yang lebih muda. mineral kontak ini dapat terjadi bilauap panas dengan temperatur tinggi dari magma kontakdengan batuan dindingyang reaktif. Mineral-mineral kontak yang terbentuk antara lain : wolastonit(CaSiO3), amphobol, Kuarsa, epidot, garnet, vesuvianit, tremolit, topaz, aktinolit, turmalin, diopsit, dan skarn.

  Gejala kontak metamorfisme tampak dengan adanya perubahan pada tepi batuan beku intrusi dan terutama pada batuan yang diintrusi, yaitu : baking (pemanggangan) dan hardening (pengerasan).

  Ignoeus metamorfism ialah segala jenis pengubahan (alterasi) yang berhubungan dengan penerobosan batuan beku. Batuan yang diterobos oleh masa batuan pada umumnya akan ter-rekristalisasi, terubah(altered), dan tergantikan (replaced). Perubahan ini disebabkan oleh panas dan fluida-fluida yang memancar atau diaktifkan oleh terobosan tadi. oleh karena itu endapan ini tergolong pada metamorfisme kontak.

  Proses pneomatolitis ini lebih menekankan peranan temperatur dari aktivitas uap air. Pirometamorfisme menekankan hanya pada pengaruh temperatur, sedangkan pirometasomatisme pada reaksi penggantian (replacement) dan metamorfisme kontak pada sekitar kontak. Letak terjadinya proses umumnya di kedalaman bumi, pada lingkungan tekanan dan temperatur tinggi.

  Mineral bijih pada endapan kontak metasomatisme umumnya sulfida sederhana dan oksida misalnya spalerit, galena, kalkopirit, bomit, dan beberapa molibdenit. sedikit endapan jenis ini yang betul-betul tanpa besi, pada umunya akan banyak sekali berisi pirit atau bahkan magnetit dan hematit. Scheelit juga terdapat dalam endapan jenis ini (Singkep-Indonesia).

D. Fase Hidrothermal (Hidrothermal Phase)
   Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "agueous" sebagai hasil differensiasi magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif ringan, dan merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan. berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal 2 macam endapan hidrothermal, yaitu :
  1. Cafity filling, mengisi lubang-lubang yang sudah ada dalam batuan.
  2. Metasomatisme, mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan dengan unsur-unsur baru dari hidrothermal.
  Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal beberapa jenis endapan hidrothermal, antara lain ephithermal(T00C-2000C), Mesothermal (T1500-3500c), dan hipothermal (T3000c-5000c). Setiap tipe endapan hidrothermal diatas selalu membawa mineral-mineral yang tertentu (spesifik). berikut altersi yang ditimbulkan berbagai macam batuan dinding. tetapi mineral-mineral seperti pirit (FeS2), Kuarsa (SiO2), Kalkopirit(cuFeS2), Florida-florida hampir selalu terdapat dalam ketiga tipe endapanhidrothermal.

  Paragenesis endapan hipothermal dan mineral gangue adalah emas(Au), magnetit(Fe3O4), hematit(Fe2O3), kalkopirit(CuFeS2), arsenopirit(FeAsS), pirrotit(FeS), galena(PbS), pentlandit(niS), wolframit : Fe(Mn)WO4, scheelit(CaWO4), kasiterit (SnO2), Mo-Sulfida(MoS2), Ni-Cosulfida, nikkelit (NiAs), Spalerit(ZnS), dengan mineral-mineral gangue antara lain : topaz, feldspar-feldspar, kuarsa tourmalin, silikat-silikat, karbonat-karbonat. Sedangkan paragenesis endapan mesothermal dan mineral gangue adalah : stanite (Sn, Cu)sulfida, sulfida-sulfida : spalerit, enargit (Cu3AsS4), Cu Sulfida, SB sulfida, Stibnit (Sb2S3), tetrahedrit(Cu,Fe)12SB4S13, Bornit (Cu2S), Galena(PbS), kalkopirit (CuFeS2), dengan mineral-mineral gangue nya : kabonat-karbonat, kuarsa, pirit.

  ParagenesisEndapan ephitermal dan mineral gangue nya adalah native cooper(Cu), argentit (AgS), Golongan Ag-Pb komplek sulfida, markasit(FeS2), pirit (FeS2), cinabar(HgS), realgar(AsS), Antimonit(Sb2S3), Stannit(CuFeSn), dengan mineral-mineral gangue nya : kalsedon(SiO2), Mg karbonat-karbonat, rhodokrosit (MnCO3), barit(BaSO4, zeolit(al-silikat).

E. Fase Vulkanik (Vulkanik Phase)
  Endapan Phase vulkanik merupakan produk akhir dari proses pembentukan bijih secara primer. Sebagai hasil kegiatan phase vulkanis adalah :
  1. Lava flow
  2. Ekshalasi, - dibagi menjadi : fumarol(terutama terdiri dari uap air H2o), Solfatar(berbentuk gas SO2), mofette (berbentuk gas CO2), Safroni (berbentuk baron).
  3. Mata air panas, - Bentuk (komposisi kimia) dari mata air panas adalah air klorida, air sulfat, air karbonat, air silikat, air nitrat, dan air fosfat.
  Jika dilihat dari segi ekonomisnya, maka endapan ekonomis dari vase vulkanik adalah belerang (kristal belerang, dan lumpur belerang), oksida besi(misalnya hematit, Fe2O3). Sulfida masif volkanogenik berhubungan dengan vulkanisme bawah laut sebagai contoh endapan tembaga, timbal, seng kuroko di Jepang, dan sebagian besar endapan logam dasar di Kanada.

Proses Pembentukan endapan Sedimenter
   Mineral bijih sedimenter adalah mineral bijih yang ada kaitanya dengan batuan sedimen, dibentuk oleh pengaruh air, kehidupan, udara selama sedimentasi, atau pelapukan maupun dibentuk oleh proses hidrothermal. Mineral bijih sedimenter umumnya mengikuti lapisan (stratiform) atau berbatasan dengan litologi tertentu (stratabound). Endapan sedimenter yang cukup terkenal karena proses mekanik seperti endapan timah letakan daerah Bangka Belitung, dan endapan emas placer di Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Barat. Endapan Sedimenter karena pelapukan limiawi seperti endapan bauksit di Pulau Bintan dan Laterit Nikel di Pomalaa/Soroako Sulawesi Tengah/Selatan.
  Y.B. Chaussier (1979), membagi pembentukan mineral sedimenter berdasarkan sumber metal dan berdasarkan host rock-nya. Berdasarkan sumber metal di bagi 2 : yaitu endapan supergen, endapan yang metalnya berdasarkan dari hasil rombakan batuan atau bijih primer, serta endapan hipogen (endapan yang metalnya berasal dari aktifitas magma/epithermal). sedangkan berdasarkan host rock (dengan pengendapan batuan sedimen) dibagi 2 yaitu endapn signetik (endapan yang terbentuk bersamaan dengan terbentuknya batuan) serta endapan epigenetik( endapan mineral terbentuk setelah batuan ada).

  Terjadinya endapan atau cebakan mineral sekunder dipengaruhi empat faktor yaitu :
Seumber dari mineral, metal atau metaloid, supergene atau hypogene (primer atau sekunder), erosi dari daerah mineralisasi yang kemudian diendapkan dalam cekungan (supergene), dari biokimia akibat bakteri, organisme seperti endapan diatomae, batu bara, dan minyak bumi, serta dari magma dari kerak bumi atau vulkanisme (hipogene).

 Mineral bijih dibentuk oleh hasil rombakan dan proses kimia sebagai hasil pelapukan permukaan dan transportasi

  Secara normal materila bumi tidak dapat mempertahankan keberadaanya dan akan mengalami trasportasi geokimia yaitu terdistribusi kembali dan bercampur dengan material lain. Proses dimana unsur-unsur berpindah menuju lokasi dan lingkungan geokimia yang baru dinamakan dispresi geokimia. berbeda dengan dispresi mekanis, dispresi kimia mencoba mengenal secara kimia penyebab suatu dispresi.
  
  Dalam hal ini adanya dispersi geokimia primer dan dispersi geokimia sekunder. Dispersi geokimia primer adalah dispersi kimia yang terjadi didalam kerak bumi, meliputi proses penempatan unsur-unsur selama pembentukan endapan bijih, tanpa memperhatikan bagaimana tubuh bijih terbentuk. dispersi geokimia sekunder adalah dispersi kimia yang terjadi dipermukaan bumi, meliputi pendistribusian kembali pola-pola dispersiprimer oleh proses yang biasanya terjadi dipermukaan, antara lain proses pelapukan, transportasi dan pengendapan. bahan terangkut pada proses sedimentasi dapat berupa partikel atau ion dan akhirnya diendapkan pada suatu tempat. mobilitas unsur sangat mempengaruhi dispersi. Unsur dengan mobilitas yang rendah cenderung berada dekat dengan tubuh bijihnya. Sedangkan unsur-unsur dengan mobilitas tinggi cenderung relatif lebih jauh dari tubuh bijihnya. Selain itu juga tergantung dari sifat kimianya Eh dan Ph suatu lingkungan seperti Cu dalam kondisi asam akan mempunyai mobilitas tinggi sedangkan dalam kondisi basa mobilitasnya rendah.

  Sebagai contoh dapat diberikan pada proses pengkayaan sekunder pada endapan lateritik. Dari pelapukan dihasilkan reaksi oksidasi dengan sumber oksigen dari udara atau air permukaan. Oksidasi berjalan kearah bawah sampai batas air tanah. Akibat proses oksidasi ini, beberapa mineral tertentu akan larut dan terbawa meresap ke bawah permukaan tanah, kemudian terendapkan (pada zona reduksi). Bagian permukaan yang tidak larut akan menjadi berongga, berwarna kuning kemerahan, dan sering disebut dengan gossan. Contoh endapan ini adalah endapan nikel laterit.
  
2. Cebakan Mineral Dibentuk Oleh Pelapukan Mekanik 
  Mineral disini dibentuk oleh konsentrasi mekanik dari mineral bijih dan pemecahan dari residu. Proses pemilihan yang mana menyangkut pengendapan tergantung oleh besar butir dan berat jenis disebut sebagai endapan plaser. Mineral plaser terpenting adalah Pt, Au, Kasiterit, Magnetit, Monasit, Ilmenit, Zirkon, Intan, Garnet, Tantalum, Rutil, Dll.

  Berdasarkan tempat dimana diendapan, Plaser atau mineral letakan dapat dibagi menjadi :
  1. Endapan Plaser eluvium, diketemukan dekat atau sekitar sumber mineral bijih primer. terbentuk dari perjalanan residu (goresan), lalu mengalami pelapukan setelah tercuci, contoh platina di Urals.
  2. Plaser aluvium, merupakan endapan plaser penting. terbentuk di aliran sungai oleh air yang mengalir kontinu, terpisahkan karena beda berat jenis, mineral bijih akan terendapkan dibagian bawah sungai. Pengayaan terjadi karena kecepatan aliran air menurun, contoh endapan disungai Bangka Belitung.
  3. Plaser Laut/pantai, endapan ini terbentuk karena gelombang (ombak) pantai mengabrasi dan mencuci pasir pantai. Umumnya muneral disini adalah ilmenit, magnetit, monasit, zirkon, intan, rutil tergantung dari batuan terebrasi.
  4. Fosil Plaser, merupakan endapan primer purba yang mengalami pembatuan, kadang termetamorfkan, contoh Proterozoikum witwatersand di Afrika Selatan yg merupakan daerah emas terbesar di dunia.
3. Cebakan Mineral Dibentuk Oleh Proses Pengendapan Kimia
  a. Lingkungan Darat
      Batuan klasik yang terbentuk pada iklim kering dicirikan oleh warna merah karena oksidasi Fe dan umumnya dalaam literatur disebut "red beds". kalau konsentrasi elemen logam permukaan atau dibawah tanah tempat pengendapan tinggi yg mungkin terjadi konsentrasi larutan logam dan mengalami pencucian(leaching) meresap dengan air tanah dan mengisi rongga sedimen klasik. Bijih Koloid akan pindah berubah kation Fe dan mineral lempung akibat penyerapan oleh mineral lempung itu sendiri.
  b. Kejadian cebakan mineral di laut dan didarat sangat berbeda, yang umumnya punya jumlah air dan kadar elemen yang tinggi dibanding kandungan dilaut. Elemen air laut sangat rendah, contoh Fe 2 x 10-7% yang menbentuk konsentrasi mineral logam yang berharga, ini dapat terjadi dalam keadaan khusus seperti :
  •  Adanya sumber logam yg berasal dari pelapukan batuan didarat / sistem hidrothermal dibawah permukaan laut.
  • Larutan yang ter transportasi, mungkin sebagai koloid. Besi adalah logam yang dominan dan terbawa sebagai Fe(OH) soil partikel.
  • Endapan dalam cebakan sedimenter, sebagai Fe(OH), FeCO3 atau Fe-silikat tergantung perbedaan potensial reduksi (Eh).
  Bijih dalam lingkungan laut dapat berupa oolit, yang dibentuk oleh larutan koloid membungkus material lain seperti pasir atau pecahan fosil. Bentuk kulit yang simetris disebabkan perubahan komposisi (Fe, Al, SiO2). Dengan pertumbuhan yang terus menerus oolit ersebut akan stabil didasar laut dimana tertanam dalam material lempungan karbonatan yang mengandung beberapa besi yang bagus. Didasar laut mungkin oolit tersebut mengalami reworked. Dengan hasil keadaan tersebut bijih besi dan mangan sebagai contoh ferromanganese nodules yang sekarang menutupi daerah luas lautan.
Skema Terjadinya Mineral
Genesa "Keterjadian" Bahan Galian Mineral
 Klasifikasi Dan Golongan Mineral  
A. Native Element ( Unsur Murni )
  Native element atau Unsur murni adalah kelas mineral yang dicirikan dengan hanya memiliki satu unsur atau satu komposisi kimia saja. Mineral pada kelas ini tidak mengandung unsur lain selain unsur pembentuk unsur utamanya. Pada umumnya sifat dalam (tenacity) mineralnya adalah malleable yang jika ditempa dengan palu akan menjadi pipih atau ductile, jika ditarik dapat memanjang, namun tidak akan kembali seperti semula jika dilepaskan. Kelas Mineral native element ini terdiri dari 2 bagian umum :
  • Metal dan element intermetalic (logam), contohnya emas, perak dan tembaga.
  • semi metal dan nonmetal (bukan logam), contohnya antymony , bismuth, graphite, dan sulfur.
sistem kristal pada native element dapat dibagi 3 berdasarkan sifat mineral itu sendiri, bila logam seperti emas, perak, dan tembaga maka sistem kristalnya adalah isometrik. Jika bersifat semi logam sepeti arsenik, dan bismuth maka sistem kristalnya adalah hexagonal. Dan jika unsur mineral tersebut non logam sistem kristalnya dapat berbeda-beda seperti sulfur, sistem kristalnya orthohombik, intan sistem kristalnya isometrik, dan graphite sistem kristalnya adalah hexagonal. Pada umumnya berat jenis dari mineral-mineral ini tinggi, berkisar 6.

  Dalam grub native element ini juga termasuk natural alloys, seperti electrum, phosphides, silicides, nitrides, dan carbides.

B. Mineral Sulfida
  Kelas  Mineral sulfida atau dikenal juga dengan nama sulfosalt ini terbentuk dari kombinasi antara unsur tertentu dengan sulfur (belerang). Pada umumnya adalah logam (metal).

  Pembentukan mineral kelas ini pada umumnya terbentuk disekitar wilayah gunung api yang memiliki kandungan sulfur yang tinggi. Proses mineralisasinya terjadi pada tempat-tempat keluarnya/ sumber sulfur. Unsur yang utama bercampur dengan unsur sulfur tersebut berasal dari magma, kemudian terkontaminasi oleh sulfur yang ada disekitarnya. Pembentukan mineralnya biasnya terjadi dibawah kondisi air tempat terendapnya unsur sulfur. Proses tersebut biasanya dikenal sebagai alterasi mineral dengan sifat pembentukan yang terkait dengan hidrothermal.

  Mineral Kelas sulfida ini juga termasuk mineral-mineral pembentuk bijih (ores). Dan oleh karena itu mineral-mineral sulfida memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. khususnya karena unsur utamanya umumnya adalah logam. Pada industri logam, mineral-mineral sulfides ersebut akan diproses untuk memisahkan unsur logam dari sulfurnya.

  Beberapa penciri kelas mineral ini adalah memiliki kilap logam karena unsur utamanya umumnya logam. Berat jenis yang tinggi dan memiliki tingkat atau nilai kekerasan yang rendah, hal tersebut berkaitan dengan unsur pembentuknya yang bersifat logam.

  Beberapa contoh mineral sulfides yang terkenal adalah Pyrite(FeS3), Calcocite(Cu2S), Galena(PbS), spalerite(ZnS), Dan proustite(Ag3AsS3). Dan termasuk juga didalamya selenides, tellurides, antimonides, bismuthinides dan juga sulfosalt.

C. Mineral Oksida Dan Hidroksida
  Mineral oksida dan Hidroksida ini merupakan mineral yang terbentuk dari kombinasi unsur tertentu dengan gugus anion oksida (O) dan gugus hidroksil hidroksida (OH atau H).

  Mineral oksida terbentuk sebagai akibat persenyawaan langsung antara oksigen dan unsur terntentu. Susunanya lebih sederhana dibanding silikat. Mineral sulfida umumnya lebih keras dibandingkan dengan mineral lainya kecuali silikat, lebih berat setelah sulfida. Unsur utama dalam oksida adalah besi, chrome mangan, timah, dan aluminium. beberapa mineral oksidayang paling umum adalah "es"(H2O), korondum, (AlO3), hematit(Fe2O3), Kassiterit (SnO2).

  Seperti mineral oksida, mineral hidroksida terbentuk akaibat campuran atau persenyawaan unsur-unsur tertentu dengan hidroksida (OH). reaksi pembentuknya dapat juga terkait dengan pengikatan dengan air. Sama seperti oksida, pada mineral hidroksida, unsur utamanya pada umunya adalah logam. Beberapa contoh mineral hidroksida adalah geothit (FeOOH), dan limonite (Fe2O3,H2O).

D. Mineral Carbonat (CO3)
  Merupakan persenyawaan dengan ion (CO3)2-, dan disebut karbonat, kalau bersenyawa dengan Ca dinamakan Kalsium karbonat (CaCO3) dikenal sebagai mineral kalsit yang merupakan susunan utama pembentuk sedimen.

  Carbonat terbentuk pada lingkungan laut oleh endapan plangton yang mati. Carbonat juga terbentuk pada daerah evaporitic dan pada daerah karst yang membentuk gua (caves), stalaktit dan stalagmite. Dalam kelas karbonat ini juga termasuk nitrat (BO3).

  Carbonat nitrat dan borat memiliki kombinasi antara logam atau semi logam dengan anion yang kompleks dari senyawa -senyawa tersebut (Na2B4O5(OH)4.8H2O).

E. Mineral Sulfat
  Sulfat terdiri dari anion sulfat (SO4.2-). Mineral sulfat adalah kombinasi logam dengan anion sulfat tersebut. Pembentukan mineral sulfat biasanya terjadi pada daerah evaporitic (penguapan) yang tinggi kadar airnya, dan menguap perlahan-lahan hingga formasi sulfat dan halida berinteraksi.

  Pad kelas sulfat termasuk juga mineral-mineral molibdat, kromat dan tungstat. Dan sama seperti sulfat, mineral-mineral tersebut juga terbentuk dari kombinasi logam dengan anion-anionya masing-masing.

  Contoh -contoh mineral yang termasuk kedalam kelas ini adalah anhydrite (calcium sulfate), celestine (strontium sulfate), Barite (barium sulfate), dan gypsum (hydrates calcium sulfate). Juga termasuk didalamnya mineral chrome, molybdate, selenate, sulfite, tellurate serta mineral tungstate.

F. Mineral Silicate (Si, O)
  Silicate merupakan 25% dari mineral yang dikenal dan 40% dari mineral yang dikenali. Hampir 90% mineral pembentuk batuan adalah dari kelompok ini yang merupakan persenyawaan antar silikon dan oksigen dengan beberapa unsur metal. Karena jumlah yang besar maka hampir 90% dari kerak bumi terdiri dari mineral silikat, dan hampir 100% dari mantel bumi (sampai kedalaman 2900 km dari kerak bumi). Silikat merupakan bagian utama yang membentuk batuan baik itu batuan sedimen, metamorf(malihan), batuan beku. Silikat pembentuk batuan yang umum dibagi 2 yaitu kelompok ferromagnesium, dan nan-ferromagnesium.

Patahan Pulau Sumatera

     Pulau Sumatera secara geologis memiliki zona patahan yang membentang sepanjang 1900 km dari Banda Aceh hingga teluk semangko di Selatan Lamapung. menurut para ahli bentangan tersebut paralel dengan palung atau Zona Subduksi sebagai pengaruh dari konvergensi lempeng Eurosia Indo-Australia dan membagi patahan ini menjadi 3 wilayah. Yaitu wilayah Utara, Tengah dan Selatan. Secara Keseluruhan berdasar pengamatan tersebut dibagi menjadi 19 segmen patahan Sumatera.
      
     Untuk wilayah Sumatera Barat terdapat 7segmen patahan yaitu : Segmen Angkola, Segmen Barumun, Segmen Sumpur, Segmen Sianok, Segmen Sumani, Segmen Siliti dan segmen Siulak yang sangat berisiko dan berdampak langsung terhadap masyarakat bila patahan pada segmen-segmen di daratan tersebut bergerak. Gempa-gempa yang berafiliasi dengan Zona patahan Sumatera merupakan gempa-gempa berkekuatan sedang hingga kuat dengan potensi kedalaman dangkal, kurang dari 20 km, yang bisa mengakibatkan kerusakan hebat dan sangat memungkinkan terjadinya bencana ikutan berupa tanah longsor.
Jalur Patahan Pulau Sumatera (Patahan Semangka)

     Gempa bumi dan Stunami Aceh tanggal 26 Desember  2004 adalah  gempa bumi yang tergolong luar biasa yang pernah terjadi dibumi setelah gempa bumi Alaska 1964, yang berkekuatan 9,2. Gempa bumi yang melanda Sumatera 2004 mampu mengubah lantai samudra dan mengahasilkan gelombang Stunami dan mampu menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Gelombang stunami ini bahkan bisa menjangkau Thailand, Sri Langka, India dan pesisir timur Afrika.
Pusat Gempa Bumi Aceh 2004

     Gempa bumi dapat terjadi di wilayah sepanjang batas pertemuan antara lempeng Eurasia dan Lempeng Australia. Panjang batas kedua lempeng tersebut sekitar 5500 kilometer atau sekitar 3400 mil mulai dari Myanmar melalui Sematera, Jawa dan menuju Australia. Disekitar pulau Jawa dan Sumatera bagian selatan Lempeng Australia bergerak Ke arah utara atau timur laut sebesar 60-65 mm pertahun relatif terhadap Asia Tenggara. Sedangkan di daerah sekitar utara pulau Sumatera lempeng Australia bergerak 50 mm pertahun. Lempeng Australia dan lempeng Eurasia bertemu dikedalaman sekitar 5000 meter atau 3 mil dibawah permukaan air laut pada palung Sumatera yang terletak di Samudera India. Palung tersebut tersebar relatif paralel terhadap pantai barat pulau Sumatera sekitar 200 kilometer atau 125 mil dari garis pantai pada palung tersebut lempeng Australia menyusup dibawah lempeng Eurasia.

Pergerakan lempeng

     Pertemuan kedua lempeng lempeng tersebut sering juga disebut Megatrust dimana lempeng Eurasia seolah-olah terangkat oleh lempeng Australia yang mengarah kebawah bumi. Megatrust yang ada diselatan pulau Jawa relatif tegak lurus terhadap palung, sedangkan di bagian barat daya sumateralebih membentuk sudut atau oblique. Akibat geometri dari pertemuan kedua lempeng tersebut sebelah barat daya pulau Sumatera yang membentuk sudut maka pertemuan lempeng tersebut mempunyai komponen dip-slip(dextral slip / menggeser lebih kekanan) yang dapat dilihat dari adanya patahan Sumatera yang ada di blok "hanging wall" dari daerah penunjaman Sumatera. Patahan tersebut kurang lebih berasosiasi dengan busur  vulkanik Sumatera yang mampu mengakomodasikan komponen geser dari bentuk penunjaman yang oblique/ tersudut.
     Pertemuan kedua lempeng tersebut juga tidaklah mulus akan tetapi lebih membentuk hubungan "stick and slip" ini artinya megatrust akan tetap terkunci maka akan terjadi gempa yang luar biasa. Sejarah membuktikan bahwa proses penunjaman megatrust tidak akan menghancurkan seluruh daerah patahan (sepanajang batas lempeng atau sekitar 5500 kilometer) dalam satu waktu.
Jenis lempeng dan arah pergeseran
     USGS melaporkan bahwa patahan mulai terjadi di bagian utara pulau SEUmelu. Dari pengamatan seismogram yang dilakukan oleh Chen ji(Caltech Seismologist) ditemukan bahwa patahan utama yang ada di pulau semeulu bertambah kearah utara sepanjang 400 Km sepanjajg jalur megatrust dengan kecepatan 2 kilometer perdetik, akan tetapi dengan berlanutnya gempa utama maka daerah patahan bertambah sebesar 1000 km kearah utara kepulauan Andaman. Pada 1883, patahan dari segmen yang sangat panjang di pesisir Sumatera bagian tengah menghasilkan gempa bumi berskala 8,7 SR diikuti Stunami. Gempa bumi tahun 2004 dihasilkan dari patahan yang terjadi dibagian paling utara dari megatrust pulau Sumatera . Penelitian-penelitian seismik terdahulu menunjukan bahwa patahan yang terjadi seperti pada tahun 1883 hampir terjadi setiap 2 abad. Ini mengakibatkan bagian lain dari lintasan megatrust menjadi rawan gempa bumi dan stunami. selama terjadinya patahan dari penunjaman megatrust, bagian Asia tenggara  yang terdapat diatas megatrust berpindah ke arah barat (kearah palung) sebesar beberapa meter dan naik sebesar 1-3 m. pergerakan itu membuat seolah-olah samudra naik 1-3 m, pada saat air pasang surut maka ini akan memicu terjadi rentetan gelombang samudera yang mampu menjalar sepanjang teluk Bengal. Dan pada saat gelombang mendekati daratan gelombang tersebut berkurang kecepatanya tapi tinggi gelombang tersebut bertambah sehingga mampu menghancurkan semua yang dilewatinya. ini terjadi seperti di Aceh 2004.

      Gelombang Stunami yang surut mengakibatkan genangan air di daerah rendah hingga membentuk rawa-rawa baru. mengangkat pulau-pulau didaerah sekitar megatrust sekitar 1-3 m, hingga muncul koral-koral yang sebelumnya ada di dalam laut..
     

Energi Panas Bumi (Energi Geothermal)

Geothermal
Energi Panas Bumi adalah energi yang diekstraksi dari panas yang tersimpan di dalam bumi. Energi panas bumi ini berasal dari ektivitas tektonik di dalam bumi rang terjadi sejak planet ini diciptakan. Panas ini juga berasal dari panas matahari yang diserap oleh permukaan bumi. energi ini telah dipergunakan untuk memanaskan (ruangan ketika musim dingin atau air) sejak peradaban romawi, namun sekarang lebih populer untuk menghasilkan energi listrik. Sekitas 10 Giga Watt pembangkit listrik tenaga panas bumi telah dipasang diseluruh dunia padan tahun 2007, dan menyumbang sekitar 0.3% total energi listrik dunia.

Energi panas bumi cukup ekonomis dan ramah lingkungan, namun terbatas hanya pada dekat area perbataasan lapisan tektonik 

Pangeran Piero Ginori Conti mencoba generator panas bumi pertama pada 4 Juli 1904 di area panas bumi Larderello di italia. Grub area sumber panas bumi terbesar didunia, disebut The Geyser berada di California,Amerika Serikat. Pada tahun 2004 lima negara (Elsavador, Kenya, Filipina, Islandia, dan Costarika) telah menggunakan panas bumi untuk menghasilkan lebih dari 15% kebutuhan listriknya.

Pembangkit listrik tenaga panas bumi hanya dapat dibangun disekitar lempeng tektonik dimana temperatur tinggi dari sumber panas bumitersedia didekat permukaan. Pengembangan dan penyempurnaan dalam teknologi pengeboran dan ekstraksi telah memperluas jangkauan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi dari lempeng tektonik terdekat. Efesiensi termal dari pembangkit listrik tenaga panas bumi cebderung rendah karena fluida panas bumi berada pada temperatur yang lebih rendah dibandingkan dengan uap atau air mendidih. berdasarkan pada hukum termo dinamika rendahnya temperatur membatasi efisiensi dari mesin kalor dalam mengambil energi selama menghasilkan listrik.
Alur pemanfaatan panas bumi

Sisa panas terbuang, kecuali jika bisa dimanfaatkan secara lokal dan langsung misalnya untuk pemanas ruangan. Efisiensi sistem tidak mempengaruhi biaya operasional seperti pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil.

Energi Panas Bumi (Energi Geothermal)

Kegiatan Pengusahaan Panas Bumi :
Survey Pendahuluan = Eksplorasi = Studi Kelayakan = Eksploitasi = Pemanfaatan.

 1. Survey Pendahuluan  adalah kegiatan untuk mendapatkan informasi kondisi geologi, geofisika, geokimia untuk memperkirakan letak dan adanya sumberdaya panas bumi serta wilayah kerja.
2. Eksplorasi, - Rangkaian kegiatan yang meliputi penyelidikan geologi, geofisika, geokimia, pengeboran uji, dan pengeboran sumur eksplorasi yang bertujuan untukmemperoleh dan menambah informasi kondisi geologi bawah permukaan guna menemukan dan mendapatkan perkiraan potensi panas bumi.
Pemboran, Well Completion, Pengujian Sumur Geothermal
 Pengujian Sumur :
  • Untuk mengetahui jenis dan karakterisasi reservoir
  • untuk mengetahui kemampuan produksi sumur
3. Studi kelayakan, - Tahapan kegiatan usaha pertambangan panas bumi untuk memperoleh informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan usaha pertambangan panas bumi, termasuk penyelidikan atau studi jumlah cadangan yang dapat di eksploitasi.
4. Eksploitasi dapat dilakukan setelah menyelesaikan studi kelayakan serta telah mendapat keputusan kelayakan linkungan berdasarkan hasil kajian analisis mengenai dampak lingkunganatau persetujuan upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup.


Sumber
DR. Ir. Nenny Saptadji - Kebijakan dan regulasi pemanfaatan panas bumi

Perbandingan Produktivitas Excavator Cat 330 C Dengan Kobelco SK330

     Pada tambang terbuka, alat gali dan alat muat merupakan salah satu faktor pendukung utama dalam suatu kegiatan penambangan dan merupakan suatu alat produksi. berkurangnya target produksi dari yang direncanakan karena belum maksimalnya produktivitas alat gali muat membuang material, dimana kurangnya jumlah unit alat gali muat untuk mengupas material. Pada umumnya pada saat ini alat gali muat yang dipakai adalah merk dari pabrikan besar dan suku cadang dari alat gali muat tersebut mudah didapat seperti Caterpillar dan Kobelco. Tentunya masing-masing pabrikan mempunyai keunggulan dan kekurangan termasuk dari segi produktivitas nya. Oleh karena itu saya melakukan penelitian mengenai "Perbandingan produktivitas Excavator Cat 330 C dengan Kobelco SK 330"

Artikel terkait : Perhitungan Produksi Alat Berat
                           Perhitungan Produksi Bulldozer
                           Perhitungan Produksi Dozer Shovel Dan Wheel Loader
                           Produksi Excavator Hidrolis                        
                           Metoda Perhitungan Sumberdaya Cadangan
Excavator Cat 330C
Kobelco Sk 330
     Dalam Kegiatan penambangan dapat kita lihat tahap-tahap penambangan yaitunya eksplorasi, study kelayakan, eksploitasi, transportasi, dan pemasaran. Namun hal tersebut tidak luput dari permasalahan, maka diperlukan landasan teori untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam perbandingan produktivitas ini perlu diketahui berbagai macam jenis excavator dari segi penggeraknya dan jenis bucket yang dipakainya.
     Excavator adalah alat gali dan muat yang digunakan sesuai dengan kondisi kerja yang dihadapi pada front penambangan, ada beberapa jenis excavator yang digunakan, antara lain :
  1. Dragline, Memiliki jangkauan yang cukup besar, tetapi memiliki tenaga penggali yang kecil karena mengandalkan kekuatan sendiri dari digging bucket, Penggunaan dragline menguntungkan karena alat ini bisa menggali, karena lenganya yang besar dan panjang, cocok untuk pengerjaan parit yang material lunak.
  2. Backhoe, adalah alat untuk menggali permukaan tanah asli, pemotongan dan perapian tebing. Biasa dipakai untuk pekerjaan yang memerluka pengontrolan secara teliti. waktu siklus backhoe salat satunya tergantung pada ukuran bucket, sudut swing dan kondisi kerja. Faktor yang mempengaruhi produksi backhoe adalah : faktor medan kerja, jarak pembuangan, skill operator, dan pengaturan Operasional.
  3.  Power Shovel, baik sebagai alat gali, dan muat untuk tebing yang tinggi. Berdasarkan kendalinya power shovel dibedakan menjadi 2 jenis : power shovel kendali kabel, dan power shovel kendali hidrolik
      Perlu diketahui hal-hal yang berhubungan dengan kapasitas produksi alat berat yaitu Effisiensi (E), Merupakan perbandingan antara waktu produktif dengan waktu-waktu yang tersedia,
  1. Faktor Bucket (k), merupakan persen dari kemampuan alat berat untuk memuat bucketnya.
  2. kapasitas bucket (ql), dapat dilihat dari spesifikasi alat tersebut.
  3. Waktu edar(cm), waktu edar adalah waktu yang dibutuhkan oleh alat dalam satu siklus. data waktu edar untuk alat muat : waktu muat(tb), waktu swing isi(ts1), waktu tumpah(td), waktu swing kosong(ts2).
  4. Produksi (Q), Produksi dapat ditentukan setelah efisiensi, faktor bucket, kapasitas bucket dan waktu siklus diketahui.
Baca Juga :Metode Penambangan,  Pertambangan BatuBara
     Metodologi pemecahan masalah diperlukan untuk menghitung "Produktifitas Excavator Cat 330 c dan Kobelco SK 330" agar proses pemecahan masalah lebih terarah dan akan mempermudah dalam menganalisa langkah-langkah penulisan yang diambil :
Metodologi pemecahan masalah terdiri dari :
1. Pengambilan data 
  • Data primer, merupakan data langsung yang diambil dari lapangan. adapun data primer meliputi waktu siklus alat berat dan waktu efektif dari alat berat. waktu siklus dapat ditentukan dengan rumus :    Waktu siklus = waktu tetap + waktu tidak tetap   (Sumber Rochmanhadi 1992)
  • Data sekunder, adalah dat-data yang diperolehdari lokasi penelitian dan literatur-literatur : Spesifikasi alat berat, pembagian waktu kerja, Lokasi dan topografi, Iklim dan cuaca, keadaan geologi dan statigrafi, kualitas material.
     Penentuan rumus yang digunakan  untuk perhitungan alat berat :
  1. Mechanical Availability (MA), merupakan faktor yang menunjukan ketersediaan alat dengan memperhitungkan waktu kerja yang hilang untuk perbaikan mekanis. Persamaan untuk menentukan mechanical availability (MA) adalah :
    Sumber Partanto 1993
    dimana : W = Jumlah jam kerja alat,    R = Jumlah jam perbaikan.
  2. Use of Availibility (UA), adalah untuk menunjukan berapa % dari waktu yang digunakan oleh suatu alat itu beroperasi, persamaan yang digunakan adalah
    Sumber : Partanto 1993
    Keterangan : W : Jumlah jam kerja alat,    S : Jumlah jam stanby
  3. Efective Utilisation (E ut), merupakan cara untuk menyatakan effisiensi kerja alat berdasarkan keadaan alat yang bekerja di lapangan.. Persamaan yang digunakan adalah :
    Sumber : Partanto 1993
    Keterangan : W : Jumlah jam kerja alat,    R : Jumlah jam perbaikan,    S : Jumlah jam standby
  4. Effisiensi Optimum (E opt), merupaka effisiensi total alat berat dalam melakukan pekerjaan. persamaan yang dugunakan adalah : 
    Sumber : Partanto 1993
      Keterangan : MA : Mechanical Availibility,   UA : Use of Availibility,   E ut : Efective of Utilisation       Tabel Faktor Kondisi kerja
                 Sumber : Kapasitas dan produksi alat-alat berat (Rochmanhadi)
  5.  Fator Pengembangan Tanah (swell Factor), merupakan perbandingan material insitu (belum digali) dengan material dalam keadaan keasaan (setelah digali), persamaan yang digunakan adalah :
    Sumber : Partanto 1993
    Keterangan : V undisturbed : Volume padat/asli (m3),     V loose : Volume gembur (m3)                                                                                                                                          Tabel Density dan swell factor dari berbagai material  
    Sumber : Pemindahan tanah mekanis (Partanto1993)
    Tabel Konversi density dari berbagai material
  6. Produktivitas alat muat, Persamaan yang digunakan adalah :
Langkah-langkah perhitungan produktifitas alat muat :
1.   Kapasitas Produksi persiklus (q)
      q = ql x K
      (Sumber : Kapasitas dan produksi alat-alat berat, Rochmanhadi 1992)
      Keterangan : q1 = Kapasitas bucket (m3)
                           K = Faktor bucket alat muat
      Tabel faktor bucket alat muat
Sumber : Kapasitas dan produksi alat-alat berat (Rochmanhadi)
2. Waktu Siklus (Cm)
     Cm = waktu gali (tb) + waktu swing isi (ts1) + waktu tumpah (td) + waktu swing kosong (ts2)

Data dan Pengolahan Data
 1. Data
     Dari hasil perhitungan langsung dilapangan didapat waktu edar excavator Caterpillar 330 Cdan Kobelco SK 330. seperti terlihat pada tabel :
Tabel waktu edar excavator Caterpillar 330 C / 01
Sumber : Pengamatan Lapangan
Tabel waktu edar excavator Caterpilar 330 C / 02
Sumber : Pengamatan Lapangan
Tabel waktu edar Excavator Kobelco SK 330 / 01
Sumber : Pengamatan Lapangan
Tabel waktu edar excavator Kobelco SK 330 / 02
Sumber : Pengamatan Lapangan
2. Pengolahan data
    Ketersediaan alat pada unit Cat 330 C / 01
    a. Mechanikal Availability (MA)
        Jumlah jam kerja (W)          : 246 jam
        Jumlah jam rusak (R)           : 4 jam
        Jumlah jam standby (S)        : 366 jam
    b. Use of Availability (UA)
    c. Efective Utilisation (Eut)

    d. Efisiensi Optimum (Eopt)
        = MA x UA x Eut
        = 98,4 % x 40,20% x 56,17%
        = 15%
    Tabel efisiensi alat gali muat
Waktu efektif dan efektifitas kerja Excavator cat 330 C / 01
     Kapasitas bucket munjung (ql)      = 2.1
     Factor Bucket                              = 0.9
     Effisiensi kerja (Eff)                      = 22%
     Bj material (clay)                          = 2,2 ton/m3
     Swell factor                                  = 0.85 (clay)

Rata-rata waktu siklus (detik)
     Waktu gali                                    = 3,52
     Waktu swing isi                            = 3,71
     Waktu tuang                                 = 2,59
     Waktu swing kosong                     = 3,64
     Jadi rata-rata waktu siklus (Cm)    = 13,46 (detik)

Kapasitas produksi persiklus
     q = al x k
        = 2.1 x 0.9
        = 1.89 m3

Produksi Total
Q = q x 3600 x E
              Cm
Q = 1,89 x 3600 x 0,15
                 13,46
    = 75,824666 BCM/jam x Bj x Sf
    = 75,824666 BCM/jam x 2,2 ton/m3 x 0.85
    = 141,79213 BCM/jam x 18 jam/hari x 31 hari/bulan
    = 79.120,007 BCM/bulan.

Ketersediaan alat pada unit Cat 330 C / 01
1. Mechanical Availability (MA)
    Jumlah jam kerja (W)     : 191 jam
    Jumlah jam rusak (R)      : 1 jam
    Jumlah jam standby         : 532 jam

   MA =     W       x 100 %
              W + R
   MA  =      191      x 100 %
                191 + 1
            =    99,47%

2. Use of Availability (UA)

    UA =      W     x 100%
                 W+S
    UA =     191     x 100%
               191 + 532
           = 26,42 %

3. Efectife Utilisation (Eut)

    Eut =      W      x 100 %
              W+R+S
    Eut =      191     x 100%
            191+1+532
          = 26,37

4. Efisiensi Optimum (Eopt)
    = MA x UA x Eut
    = 99,47% x 26,42% x 26,37 %
    = 6,9 %
 Tebel Efisiensi Alat Gali Muat

Waktu efektif dan efektifitas kerja Cat 330 C / 02
     Kapasitas bucket munjung (ql)    = 2.1
     Factor bucket                             = 0.9
     Effisiensi kerja (Eff)                     = 22%
     BJ OB (clay)                               = 2,2 ton/m3
     Swell factor                                 = 0.85 (clay)

Rata-rata waktu siklus (detik)
    Waktu gali                              = 6,02
    Waktu swing isi                       = 3,67
    Waktu tuang                            = 3,36  
    Waktu swing kosong                = 3,1   +
Jadi rata-rata waktu siklus (Cm)  = 16,15 (detik)

Kapasitas Produksi waktu siklus
                q = ql x k
                   = 2.1 x 0.9
                   = 1.89 m3
Produksi total  Q = q x 3600 x E
                                      Cm
                           = 1,89 x 3600 x 0,069
                                           16,15
                           = 29,06972 BCM / jam x Bj x Sf
                           = 29,06972 BCM / jam x 2,2 ton/m3 x 0.85
                           = 54,360378 BCM /jam x 18 jam/hari x 31 hari/bulan
                           = 30.333,091 BCM /bulan

 Ketersideiaan alat pada unit Kobelco SK 330 / 01
 1. Mechanical Avalability (MA)
     Jumlah jam kerja (W)     : 286 jam
     Jumlah jam rusak (R)       : 2 jam
     Jumlah jam standby (S)    : 458 jam
     MA =      W     x 100%
                 W+ R
     MA =      286      x 100%
                 286 + 2
             = 99,2 %

2. Use of Availability (UA)
     UA =     W       x 100%
                 W+S
     UA =      286      x 100%
                286+458
            = 38,43%

3. Efective Utilisation (Eut)
    Eut =        W        x 100%
              W + R + S
    Eut =          286        x 100%
              286 + 2 + 456
          = 38,34%

4. Efisiensi Optimum (Eopt)
    = MA x UA x Eut
    = 99,2% x 38,43% x 38,34%
    = 14,6%

Tabel effisiensi alat gali muat
 Waktu efektif dan efektifitas kerja Excavator Kobelco SK 330 / 01
     Kapasitas bucket munjung (ql)     = 2.1
     Factor bucket                              = 0.9
     Effisiensi kerja (Eff)                      = 15%
     BJ material (clay)                         = 2.2 ton/m3
     Swell factor                                 = 0.85 (clay)

Rata-rata waktu per siklus (detik)
     Waktu gali                                  =   5,73
     Waktu swing isi                          =   4,70
     Waktu tuang                               =   2,51
     Waktu swing kosong                   =   3.62   +
     Jadi rata-rata waktu siklus (Cm)  = 16,56 (detik)

Kapasitas produksi persiklus
     q = ql x k
        = 2.1 x 0.9
        = 1.89 m3

Produksi total Q =   q x 3600 x E
                                     Cm
                       Q =  1,89 x 3600 x 0,146
                                          16,56
                           = 59,987 BCM/jam
                           = 59,987 BCM/jam x Bj x Sf
                           = 59,987 BCM/jam x 2,2 ton/m3 x 0.85
                           = 112,17569 BCM/jam
                           = 112,17569 BCM/jam x 18jam/hari x31 hari/bulan
                           = 62.594,034 BCM/Bulan

Ketersediaan alat pada unit Excavator Kobelco SK 330 / 02
1. Mechanical Availability (MA)
    Jumlah jam kerja (W)     : 248 jam
    Jumlah jam rusak (R)      : 5 jam
    Jumlah jam standby (S)   : 494 jam
    MA =      W      x 100%
                W + R
    MA =      248     x 100%
                248 + 5
            = 98,02 %

2. Use of Availability (UA)
    UA =      W       x 100%
                 W+S
    UA =     248     x 100%
             248 + 494
    UA = 33,42%

3. Efectife utilisation (Eut)
    Eut =       W       x 100%
             W + R + S
    Eut =           248          x 100%
              248 + 5 + 495
          = 33,20 %

4. Efisiensi Optimum (Eopt)
    = MA x UA x Eut
    = 98,02% x 33,24% x 33,20%
    = 10,8%
Waktu efektif dan efektifitas kerja Excavator Kobelco SK 330 / 02
    Kapasitas bucket munjung (ql)       = 2.1
    Factor bucker                                = 0.9
    Effisiensi kerja (Eff)                        = 15%
    Bj material (clay)                            = 2.2 ton/m3
    Swell factor                                    = 0.85 (clay)

Rata-rata waktu siklus (detik)
    Waktu gali                                        = 4,96
    Waktu swing isi                                 = 5,87
    Waktu tuang                                      = 3,36
    Waktu swing kosong                         = 5,67          +
Jadi waktu rata-rata waktu siklus (Cm)  = 19,86 (detik) 

Kapasitas produksi persiklus
    q = ql x k
       = 2.1 x 0.9
       = 1.89 m3

Produksi total   Q =  q x 3600 x E
                                       Cm
                         Q =  1,89 x 3600 x 0,108
                                           19,86
                             = 37,0006 BCM/jam x Bj x Sf
                             = 37,0006 BCM/jam x 2,2 ton/m3 x 0.85
                             = 69,191122 BCM/jam x 18 Jam/hari x 31 hari/bulan
                             = 38.608,646 BCM/bulan

Tabel Produktivitas excavator "alat" gali muat..



Latar Belakang Dan Rancangan Tambang Bawah Tanah

Secara umum pengertian tambang bawah tanah adalah suatu sistem penambangan mineral atau batu bara dimana seluruh aktivitas penambangan tidak berhubungan langsung dengan alam terbuka.


  1. Perbandingan SR yang besar dan tidak ekonomis untuk ditambang menggunakan system tambang terbuka.
  2. Mineralisasi cadangan bahan galian membentuk cebakan yang secara spesifik harus ditambang menggunakan system tambang bawah tanah.
  3. Daerah yang akan ditambang merupakan daerah hutan lindung.
  4. Penambangan dengan system tambang bawah tanah tidak banyak merusak ekosistem yang ada disekitar penambangan.
Bagan alir proses rancangan penggalian bawah tanah (Mahtab, Grasso, 1992)
Metoda- metoda yang dipakai pada system tambang bawah tanah :
  1. Metode tak disengaja (open stope methode) adalah suatu metoda yang tidak menggunakan timber atau filling dalam menyangga dinding, baik hanging wall maupun footwall. penyangga pada dinding dilakukan dengan pilar - pilar dan baut batuan digunakan untuk penyanggaan local.
  • Open stope dengan openhand stoping. - Pada metoda ini bagian level bawah dihubungkan dengan raise dan penambangan dimulai dengan memotong bagian atas dari raise sehingga terbentuk jenjang pada cebakan dimana para pekerja berdiri. bijih lepas kemudian ditarik setahap demi setahap sampai mencapai raise. selanjutnya dijatuhkan kelevel drive dibawahnya. jadi bijih ditambang dari atas kebawah dengan jenjang menurun dan dijatuhkan menuju haulage drive secara grafitasi sehingga meminimumkan transportasi mekanikal.
  • Open stope dengan overhand stoping. - Overhand stop secara praktis berlawanan dengan underhand stoping yaitu tempat pekerja mengarah keatas dan berada dibawah bijihyang akan ditambang. bijih ditambang selapis demi selapis dan memungkinkan bijih lepas jatuh ke haulage level yang biasanya dilindungi oleh pilar dari bijih atau timbermat.
  • Open stope dengan breast stoping (stope and pillar).- pada metoda ini pembongkaran bijih dilakukan secara maju (advancing) terhadap bijih yang terletak horizontal dengan tinggi kurang dari 3 m, dimana kondisi ini tidak memungkinkan dilakukan dari atas kebawah. Penyangga atap(roof) pada breast stoping biasanya secara permanent atau semi permanent pillar yang terdiri dari bijih itu sendiri. Untuk cebakan yang lebih tebal maka bijih ditambang secara berjenjang metode ini digunakan untuk cebakan sampai ketebalan 3 m. pillar yang dibuat kadang-kadang diperkuat dengan semen sekelilingnya. pada cebakan yang datar dengan ketebalan kurang dari 4-5m, metoda dilakukan dengan menggali bijih sehingga terbentuk "wide diift" dan secara sistematis dengan interval teratur ditinggalkan bijih sebagai pillar.
  • Sub level stoping. - Pada metoda ini blok bijih dibagi sepanjangjerus cebakan, diantara 2 buah stope yang terbentuk dipisahkan oleh pilar. ketinggian stope dibatasi oleh kekuatan batuan dan lebar stope yang kadang-kadang mencapai 500 feet.
       2.Stope dengan penyanggaan batuan (supported)
  • Cut and fill stoping. - Metoda ini sebagaimana namanya menerapkan urutan kerja dimana bijih diambil dalam potongan yang sejajar dan setiap potongan yang telah diambil dilakuka pengisian dengan waste fill dalam stope sehingga menyisakan ketinggian ruang yang mencukupi untuk melakukan pemboran bijih, material filling digunakan sebagai tempat berpijak, apabila bijih tealh diledakna dan diambil, maka timbered chute dan manway diperpanjang, sebelum dilakukan kegiatan filling dilakukan untuk mengisi ruang yang terbentuk. pada Cut and fill stoping dilakukan secara horizontal atau miring. bagian punggung akan lebih mudah disanggan pada stoping horizontal dibanding dengan stoping miring. material filling sering kali berupa waste rock dari kegiatan development dan eksplorasi sekitar tambang kemudian ditumpah kan melalui rise mengarah ke stope yang akan diisi mill tailing merupakan salah satu sumber material filling terbaik untuk mengisi stope. apabila tailing ini dikentalkan menjadi sekitar 70% kepadatan maka tailing ini dapat dibawa melalui pipa dan ditumpahkan kedalam stope untuk mengangkat kekuatan material pengisi, maka dapat ditambahkan semen. 
  • Shrinkage stoping. - Shrinkage stoping diterapkan untuk badan bijih yang besar, kemiringan 50"-90"(sleeply). metoda ini terletak antara kelas open stope dan filled stope. Bijih dihancurkan secara metoda overhand dan dibiarkan terkumpul dalam stope. mengingat bijih akan mengembang bila dihancurkan maka sekitar 35% dari volume batuan yang dihancurkan setiap peledakan harus diambil untuk memberikan ruangan yang cukup bagi pekerja untuk bekerja diantara bagian atas bijih lepas dengan atap. apabila bijihnya lemah maka bagian atap diatas pekerja dapat disangga dengan baut batuan selama penambangan. Dinding stope secara otomatis akan disangga oleh bijih lepas sampai kegiatan penambangan bijih selesai. Selanjutnya bijih ddiambil secara keseluruhan membentuk stope yang kosong dalam kasus ini membentuk open stope atau metoda shrinkage stoping general. Apabila dikhawatirkan akan terjadi keruntuhan dan hal ini tidak diinginkan maka stope dapat diisi oleh waste yang berasal dari stope atau kegiatan diatasnya , dalam kasus ini membentuk filled stope atau metode shrinkage and fill. Development yang dilakukan mirip dengan sublevel penambangan bijih dilakukan pada sayatan horizontal dimulai dari bagian bawah mengarah keatas melalui suatu manway dibuat dekat pillar vertical berukuran lebar diatas 40 feet.
  • Square - set stoping. - Pada metoda ini bekas penambangan secara sistematis disangga dengan timbering. Fungsi utamadari suatu square set adalah sebagai penyangga sementara terhadap dinding dan atap satu suatu daerah bekas peledakan dan sebagai jalan masuk kedaerah kerja.
  • Stull Stoping. - Stul stoping termasuk kedalam penyanggaan yang dilakukan secara overhand. dengan menggunakan pillar buatan dari waste rock dan stull timber yang menyanggan dan melintang pada stope. stull dipasang pada geometri yang sistematis berfungsi sebagai berpijak pekerja dan sebagai peluncur bijih membentuk corong dan manwaylining dan sebagai penyangga lekat.

Diagram rancangan untuk pertambangan dan terowongan (Bieniawski)

Dari diagram tersebut dapat dilihat bahwa tidak ada rancangan rekayasa batuan dapat dianggap selesai sebelum konstruksi selesai semuanya.
Tahapan perencanaan pembuatan terowongan (Bieniawski, 1984)
  1. Pengumpulan data awal
  2. Study kelayakan
  3. Karakterisasi lokasi teknik
  4. Analisis stabilitas
  5. Rancangan akhir dan konstruksi ( Umpan balik ke study kelayakan )
 1. Pengumpulan data awal
Diagram pengumpulan data awal
Diagram study kelayakan

Diagram tahap karakteristik terinci
Tahap analisis kestabilan
Tahap rancangan akhir dan konstruksi

Sekian Sedikit pembahasan Latar Belakang PemilihanTambang Bawah Tanah.
Semoga bermanfaat.

Baca Juga artikel Terkait : Metode Penambangan